Sikapi Rohingya, Jokowi Didesak Putus Diplomatik Myanmar

Jakarta (LN) – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mendesak Presiden Joko Widodo mengambil sikap tegas terkait kekerasan terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Pigai mengatakan, sikap diam Jokowi menjadi pembiaran atas kejahatan kemanusiaan itu.

“Sebagai negara muslim terbesar dunia, seharusnya kita bisa tingkatkan tekanan diplomatik untuk menghentikan kejahatan kemanusiaan terhadap umat muslim oleh Pemerintah Myanmar,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Minggu (3/9).

Pigai berpendapat, Jokowi perlu meniru langkah presiden pertama RI Sukarno. Saat perang India dan Pakistan pecah pada 1965, Sukarno mengirim kapal perang angkatan laut guna membantu Pakistan karena rasa solidaritas Islam. Padahal Sukarno dan Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru adalah sahabat karib.

“Mengapa (Jokowi) tidak bisa mengambil sikap tegas dengan memutuskan hubungan diplomatik?” kata Pigai.

Dia mengatakan, semua negara memiliki kewajiban untuk melawan kejahatan kemanusiaan. Oleh karena itu, tidak ada yang salah jika bangsa ini secara aktif berperan menciptakan perdamaian abadi di Myanmar Selatan.

Etnis Rohingya sendiri, menurut Pigai, telah berabad-abad menempati Teluk Benggala. Di seberang barat wilayah mereka tersebut dihuni bangsa Bangladesh, dan di timur dihuni oleh bangsa Burma.

Sebelum Burma merdeka dari Kerajaan Inggris pada 1942, etnis Rohingya telah lebih dulu menghuni wilayah Rakhine yang sekarang disebut Rakhine State. “Apa yang salah dengan mereka sehingga ribuan etnis Rohingya terusir dari negerinya, Rakhine State?” kata Pigai.

“Sekali lagi pemerintah jangan takut tekan Pemerintah Myanmar hanya karena terikat dengan traktat Asean yang nonintervensi urusan domestik,” ucapnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan hampir 50 ribu warga Rohingya telah mengungsi untuk menghindari kekerasan terbaru ini.

Para pengungsi Rohingya mengaku bahwa tentara Myanmar menyerang mereka, sementara pemerintah menyalahkan ‘teroris Rohingya’ yang memicu kekerasan.

Sekitar 27 ribu pengungsi telah melintasi perbatasan Bangladesh sejak pekan lalu, sementara 20 ribu lainnya terjebak di daerah tak bertuan yang memisahkan kedua negara tersebut. (cnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas