Mobil Ini Diyakini Mampu Jelajahi Medan Ekstrem Karhutla di Sumsel

Mayor Inf Andik Siswanto Sub Satgas Darat Penanggulangan Karhutla Sumsel menunjukkan gambar mobil Fin Komodo yang nantinya digunakan Mobile Night Rescue bakal efektif menaklukkan medan yang ekstrem.

Palembang (Lentra) – Mayor Inf Andik Siswanto Sub Satgas Darat Penanggulangan Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) Sumsel mengatakan pihaknya optimistis mobil Fin Komodo yang nantinya digunakan Mobile Night Rescue bakal efektif menaklukkan medan yang ekstrem.

“Saya sudah usulkan Mobile Night Rescue ke BNPB. Sebagai Satgas kita berusaha sebaik mungkin melengkapi sarana prasarana.

Begitu ada hotspot bisa langsung cepat. Bisa melalui medan berat (ekstrem) seperti offroad di lumpur dsb,” ungkap Mayor Inf Andik Siswanto didampingi Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Penanggulangan Bencana Alam H Yulizar Dinoto SH, Plt Kepala BPBD Sumsel H Iriansyah SSos SKM MKes, Kadisbun Sumsel Fakhrurrozi, AKBP Adi Herpaus (Polda Sumsel) pada Rakor Penanggulangan Karhutla wilayah Sumsel di Posko Satgas Karhutla, Rabu (20/9/2017).

Dikatakan Andi, Mobile Night Rescue merupakam salah satu konsep TNI untuk penanggulangan Karhutla.

Sebelumnya konsep yang dibikin TNI seperti BIOS 44, Foam Nusantata.

“Untuk Mobile Night Rescue isinya satu regu 10 personel terlatih. Bukan untuk mengatasi yang kebakaran besar. Menggunakan foam nusantara menggunakan baju anti api. Biaya Rp 447 juta per unit. Mobil fin komodo untuk Damkar sudah ada perlengkapannya. Minimal ini satu dan tipe yang biasa 1,” kata Andi yang juga Kasi Ops Korem 044/Gapo.

Sementara Staf Khusus Gubernur Sumsel Bidang Penanggulangan Bencana Alam H Yulizar Dinoto SH mengatakan dari 344 titik api yang berhasil dipantau oleh BPBD Sumsel, 70 persen lahan yang terbakar merupakan lahan daerah mineral.

“Sekarang bukan gambut lagi yang terbakar, ini malahan lahan mineral, lahan pertanian. Ini pasti buka lahan.

Kita tidak lagi bicara jumlah desa rawan karhutla. Tetapi bagaimana untuk mempertahankan jangan sampai hotspot bertambah menjadi bencana kabut asap.

Menurut BMKG awal Oktober peralihan kemarau ke penghujan. Intinya Satgas Darat tetap maksimal, Satgas Udara tetap maksimal. Patroli ditingkatkan.

Kewaspadaan harus maksimal. Hari-hari menyongsong musim hujan.

Penyuluhan sektor pertanian maksimal. Buka lahan jangan bakar lahan. Posko gambut maksimal.

Selama ini baru tiga kali patroli. Pagi siang malam. Ini ditambah sore. Saya tidak ada yang marah, tapi stressing. Jangan sampai dia lengah,” kata Noto.

Sumber Sriwijaya Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas