Gunung Agung Awas, Benda Sakral di Pura Besakih Diselamatkan

Jakarta (Lentera Rakyat) — Pemerintah Kabupaten Karangasem, Bali, melakukan upaya pengamanan “pratima” atau benda-benda sakral di Pura Besakih yang lokasinya berada di bawah kaki Gunung Agung agar tidak hilang dan rusak akibat bencana.

“Hari ini, Pemkab Karangasem sedang melakukan rapat dengan para pemangku atau pendeta Hindu di Pura Besakih yang dipimpin Wakil Bupati untuk menyelamatkan benda-benda sakral,” kata Bupati Karangasem, Ayu Mas Sumantri, di Karangasem, Minggu (24/9), seperti dilansir dari Antara.

Ia mengatakan, Pura Besakih yang menjadi tujuan wisatawan mancanegara karena memiliki arsitektur bangunan yang unik juga sudah disterilisasi. Para pelancong, termasuk umat Hindu dilarang mengunjungi pura itu karena masuk dalam kawasan rawan bencana (KRB).

Pura Besakih hanya berjarak 9 kilometer dari puncak Gunung Agung.

“Saat ini juga ada larangan masuk wilayah sektoral menjadi 12 kilometer ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya,” ujar Sumantri.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung dari Siaga (Level III) menjadi Awas (Level IV) terhitung mulai Jumat (22/9) pukul 20.30 WITA.

Dengan peningkatan status itu, maka wilayah steril yang semula untuk radius 6 kilometer dari puncak gunung, diperluas menjadi untuk radius 9 kilometer, lalu ditambah perluasan wilayah sektoral yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara dan Selatan-Baratdaya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah juga sedang menyiapkan rambu-rambu jarak radius yang akan segera dipasang di tempat-tempat strategis agar masyarakat dapat mengetahui posisi di radius aman atau berbahaya.

BNPB hingga Minggu (24/9) mencatat sekitar 34.931 jiwa mengungsi di 238 titik pengungsi yang tersebar di tujuh kabupaten/kota di Bali setelah peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung.

Dari data 238 titik pengungsian tersebar di Kabupaten Badung sebanyak tiga titik dengan jumlah pengungsi 328 jiwa, Kabupaten Bangli 23 titik (2.883 jiwa).

Kemudian di Kabupaten Buleleng 13 titik (4.649 jiwa), Kabupaten Denpasar lima titik (297 jiwa), Kabupaten Giayar 12 titik (161 jiwa), Kabupaten Karangasem 81 titik (15.129 jiwa) dan Kabupaten Klungkung 101 titik (11.484 jiwa).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas