Jokowi Sebut Daya Beli Turun Hanya Isu Politik

Jakarta (Lentera Rakyat) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) buka suara tentang kondisi daya beli masyarakat Indonesia yang belakangan disebut lesu bahkan anjlok. Menurut Jokowi, hal itu hanyalah isu untuk kepentingan politik, karena daya beli sebenarnya masih bagus.

Benarkah demikian?

Ekonom PT Bank BCA Tbk, David Sumual, tak menganggap ada masalah dengan kondisi daya beli masyarakat di Indonesia. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga terbilang masih dalam rentang yang wajar dengan realisasi 4,9% pada kuartal II-2017.

“Jadi enggak ada masalah dengan daya beli,” ungkapnya dikutif dari  detikFinance, (4/10/2017)

Menurut David, ada ketidakpahaman yang berkembang di publik, antara daya beli dengan keyakinan masyarakat untuk membeli barang atau jasa. Sehingga isu yang berkembang adalah daya beli turun atau anjlok.

Diketahui dana yang tersimpan di perbankan, untuk kategori di atas Rp 5 miliar tumbuh 15,6% hingga Juni 2017. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi di bawahnya yang hanya tumbuh maksimal 8%.

“Uangnya ada tapi belum mau dibelanjakan,” imbuhnya.

Dalam posisi ini, menurut David, ada beberapa hal yang menimbulkan ketidakyakinan bagi masyarakat untuk belanja. Di antaranya, kebijakan pemerintah soal tarif listrik, keterlambatan gaji ke-13 bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) hingga kondisi Lebaran yang bertepatan dengan tahun ajaran baru sekolah.

Di samping itu memang ada sedikit gejolak sosial di dalam negeri. Seperti demonstrasi besar-besaran, berulang kali. “Paling umum masyarakat melihat kondisi ekonomi itu, belum yakin,” ujar David.

Masuk ke semester II (Juli) 2017, David memandang sudah banyak perbaikan. Terlihat dari pertumbuhan kredit yang mencapai 8,4% pada Agustus 2017. Ritel juga kembali membaik, meskipun masih tipis.

Penjualan sektor ritel Juli tahun ini minus 0,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 5,9% (year on year/YoY). Sementara untuk Januari-Juli 2017 (year to date/ytd) tumbuh 3,0% atau turun dibanding pertumbuhan Januari-Juli 2016 sebesar 9,5%.

Peralihan ke belanja online sebenarnya mempengaruhi perkembangan sektor ritel, meskipun menurut David tidak besar. Ia menyampaikan, tahun sebelumnya penjualan baru sampai puluhan miliar rupiah, sekarang sudah mencapai triliunan.

Di sisi lain, ada pergeseran gaya hidup. Di mana masyarakat lebih banyak menghabiskan uang untuk kebutuhan rekreasi dibandingkan pembelian barang. Bukti sederhana terlihat dari antrean masyarakat yang panjang saat travel fair ketimbang pembelian telepon seluler (ponsel) edisi terbaru.

“Sebenarnya sudah ada recovery, tapi masih perlahan,” terang David.

Proyeksi Ekonomi RI di Kuartal III-2017

David memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2017 bisa mencapai 5,1%. Lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang hanya 5,01%. Secara keseluruhan tahunan juga 5,1%.

Ekspor akan menjadi pendorong cukup signifikan, karena adanya peningkatan harga komoditas, khususnya batu bara. Sementara investasi masih perlu menunggu realisasi.

“Jadi kemungkinan kita masih 5,1%,” tegas David.

Proyeksi tersebut di bawah asumsi pemerintah yang menetapkan dalam APBN-P 2017 sebesar 5,2%. Menurut David, asumsi itu bisa saja terjadi asalkan harga komoditas tetap terus naik, pertumbuhan kredit bisa 10%, serta realisasi investasi dan belanja pemerintah dipercepat.

“Bisa saja nanti 5,3% di akhir tahun, dan 5,2% untuk full year,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas