Motif Penembakan Brutal di Las Vegas

Jakarta (Lentera Rakyat) – Petugas penegak hukum bingung terhadap apa yang memotivasi seorang pensiunan tanpa catatan kriminal bisa mengumpulkan senjata di hotel dan melepaskan tembakan secara brutal ke pengunjung yang berada di konser musik selama 9 menit dan menyebabkan setidaknya 59 orang tewas.

Dilansir dari Reuters, Rabu (4/10/2017), Stephen Paddock melakukan penembakan pada Minggu (1/10) malam dan menjadikannya sebagai penembakan yang paling mematikan dalam sejarah modern Amerika Serikat (AS). Dia meninggalkan 49 senjata di kamarnya. Namun masih belum ada petunjuk yang jelas mengapa dia mengarahkan serangan ke kerumunan 20.000 orang dari jendela lantai 32 hotel Mandalay Bay, Las Vegas.

Penyidik lokal negara bagian dan federal tidak menemukan bukti bahwa Paddock bahkan memiliki kontak insidental dengan kelompok ekstremis asing atau domestik. Dan ulasan sejarahnya tidak menunjukkan pola yang mendasari pelanggaran hukum,

“Kita bahkan tidak bisa mengesampingkan penyakit jiwa atau beberapa bentuk kerusakan otak, meski tidak ada bukti adanya itu,” kata salah seorang pejabat AS.

Sementara itu, saudara laki-laki Paddock, Eric, bingung atas serangan tersebut.

“Ini membuat kita merasa tidak masuk akal, kita menggunakan alasan untuk mengetahuinya,” kata Eric Paddock.

“Saya berani bertaruh sejumlah uang sehingga mereka tidak menemukan kaitan dengan apapun. Dia melakukan ini sepenuhnya sendiri,” tambahnya.

Dia mengatakan, keluarga tidak berencana untuk mengadakan pemakaman untuk saudaranya itu, yang tidak beragama. Eric juga menggambarkan saudaranya itu sebagai penggemar video poker dan kapal pesiar mewah, tanpa riwayat masalah kesehatan mental.

Presiden Donald Trump juga sempat mengatakan bahwa Paddock adalah orang sakit.

“Orang sakit, orang gila,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas