Korem 044/Gapo Kembangkan Mobil Deteksi Panas

Danrem 044/Gapo Kol Inf Kunto Arief Wibowo

Palembang (Lentera Rakyat) — Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan (Prov Sumsel)yang selama ini dilaksanakan masih menemukan berbagai  diantaranya  terkendala alat transportasi dan alat perlengkapan untuk menuju lokasi apbila pemadaman dilaksanakan pada malam hari.

Komandan Satgas Karhutla Prov Sumsel yang juga menjabat sebagai Komandan Korem 044/Garuda Dempo, Kolonel inf Kunto Arief Wibowo, jum’at (27/10/2017) menyampaikan  melalui inisiatornya menciptakan inovasi alat transportasi dan alat pemadaman Karhutla, yang peralatannya berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov Sumsel, akan menjawab permasalahan yang selama ini dirasakan Satgas.

“Jadi kita ciptakan alat transportasi dengan ‘merampok’ peralatan dari BPBD untuk dipadukan menjadi satu,” ungkap Kunto usai penutupan Satgas Karhutlah di Posko Karhutlah,” Urai Kunto

Ia melanjutkan, peralatan mulai dari traktor, kemudian tandemnya tadinya dapur lapangan,  lalu chainsaw untuk memotong dan membuat jalan ada juga sekop.

“Mobil ini dilengkapi dengan sonar untuk mencari panas, juga GPS untuk mencari posisi dan lokasi. Alat tersebut kita pindahkan dari kapal laut, sonar pada kapal tadinya untuk mencari panas pada ikan. Sonar itu berfungsi untuk membedakan panas udara sehingga dapat mendeteksi kebakaran hutan,” urainya.

Ditambahkannya, kebutuhan mobil transportasi (Mobile rescue) ini sangat ditentukan dengan luasan daerah di kabupaten/kota masing-masing.

“Daerah yang rentan Karhutla atau daerah yang luas lahan gambutnya diperlukan lebih banyak mobile rescue ini,” jelasnya.

Kunto menyampaikan, penanggulangan yang telah dilakukan saat ini lebih pada pendekatan sosial yang menjadi unggulan dibanding daerah lain. Masyarakat sekarang sudah mulai menerima untuk membuka lahan dengan cara tidak membakar.

“Karena itu pendekatan kita pendekatan sosial. Pendekatan sosial dari semua bidang pertanian, perkebunan, perikanan pakan ternak yang sifatnya meningkatkan produksi. Kita tidak hanya melarang untuk tidak membakar tampa solusi, karena kita meningkatkan produksi maka petani lebih tertarik sehingga petani teralihkan untuk tidak merbakar,” tutupnya. (dhie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas