Mobil Alternatif Atasi Karhutla Inovasi Korem 044/Gapo

Palembang (Lentera Rakyat)  — Satgas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Provinsi Sumatera Selatan tahun 2017 resmi ditutup. Dari hasil evaluasi pelaksanaan Karhutla yang selama ini dilaksanakan masih menemukan berbagai kendala diantaranya terkendala alat transportasi dan alat perlengkapan untuk mengatasi kebakaran apabila terjadi dimalam hari.

Dari kendala tersebut, Komandan satuan tugas (Dansatgas) Karhutla Prov. Sumsel yang juga menjabat sebagai Komandan Korem 044/Garuda Dempo, Kolonel Inf Kunto Arief Wibowo, membuat inisiatif dengan memodifikasi kendaraan alternatif beserta perlengkapannya, yaitu perlengkapan yang diambil dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Prov. Sumsel dengan alat mesin pertanian (Alsintan) untuk menjawab permasalahan yang selama ini dirasakan Satgas.

“Jadi kita ciptakan alat transportasi ini kita gabungan ‘merampok’ peralatan dari BPBD dan peralatan Alsintan untuk dipadukan menjadi satu,” ungkap Kolonel Kunto.

Lebih lanjut Ia mengatakan, peralatan mulai dari traktor, kemudian tandemnya, dapur lapangan,  lalu chainsaw untuk memotong dan membuat jalan serta ada juga sekop. Dan kendaraan ini rencananya dalam waktu dekat akan dilakukan uji coba.

“Kendaraan ini dilengkapi dengan sonar untuk mencari panas, juga GPS untuk mencari posisi dan lokasi. Alat tersebut kita pindahkan dari kapal laut, sonar pada kapal tadinya untuk mencari panas pada ikan, kita berfungsi untuk membedakan panas udara sehingga dapat mendeteksi kebakaran hutan,” urainya.

Ditambahkannya, kebutuhan mobil transportasi (Mobile rescue) ini sangat ditentukan dengan luasan daerah di Kabupaten/Kota masing-masing. “Daerah yang rentan Karhutla atau daerah yang lahan gambutnya lebih luas diperlukan lebih banyak mobile rescue ini,” jelasnya.

Dansatgas darat Kolonel Inf Kunto Arief Wibowo, juga menyampaikan, penanggulangan yang telah dilakukan saat ini lebih pada pendekatan sosial yang menjadi unggulan dibanding daerah lain. Masyarakat sekarang sudah mulai menerima untuk membuka lahan dengan cara tidak membakar.

Karena itu pendekatan yang kita lakukan melalui pendekatan sosial. Pendekatan sosial dari semua bidang, baik pertanian, perkebunan, perikanan maupun peternakan yang sifatnya meningkatkan produktifitas.

“Kita tidak hanya melarang untuk tidak membakar tampa solusi, tetapi kita juga berupaya membantu masyarakat untuk meningkatkan produksi, maka petani lebih tertarik sehingga petani teralihkan untuk tidak merbakar,” tutupnya. (dhie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas