Yang Perlu Dilakukan pada Anak yang Takut Air

DiviaNews, Jakarta – Pernah lihat ada anak yang panik atau ketakutan banget ketika berada di KOlam Renang, Bun? Bisa jadi anak takut air. Coba deh telisik lagi kenapa anak bisa segitu panik atau takutnya ketika berada di kolam atau dekat air.

Menurut psikolog anak dan remaja, Adisti Fatimah Soegoto MPsi, trauma kaitannya dengan anak yang punya latar belakang takut air. Jika ada anak yang takut air, coba lihat dari sisi keluarganya, misal dari orang tua baik-baik saja tapi ternyata dari kakek nenek si kecil menanamkan pikiran bahwa air itu bahaya. Bahkan termasuk orang tua yang melarang anak untuk dekat dengan air bisa berefek trauma ke anak juga.

“Misalnya gini, ‘hei jangan, jangan dekat-dekat air nanti kecemplung, nanti kamu bisa tenggelam, bisa mati’, sehingga yang terekam di otak anak adalah air itu sesuatu yang membahayakan, makanya dia takut air. Disuruh nyemplung dia nggak mau. Nah kalau dengan background anak yang takut air terus kita tiba-tiba cemplungin, dia bukan bakal perform, yang ada dia malah makin takut, dia malah trauma. Sekarang kalau ada kasus misal anak takut air, kita perlu cek, apa yang bikin dia tak,ut air,” tutur Adisti di sela-sela The 5th Worldwide Aquathon Day 2017 yang diselenggarakan Water Exercise Therapy (WET) Indonesia di Pejaten Barat, Jakarta Selatan baru-baru ini.

Adisti menyarankan juga coba cek pengalaman anak, apakah dia punya pengalaman tenggelam sebelumnya makanya anak punya pengalaman air yang tidak nyaman, tenggelam hingga kemasukan air ke hidung dan ke mulut, atau hingga si anak batuk-batuk.

“Bisa juga si anak memang nggak pernah berenang, cuma orang tua atau keluarganya tuh selalu menekankan air itu bahaya,” tutur Adisti.

Karena itu, psikolog dari BFRP (Bach Foundation Registered Practitioner) ini menyarankan untuk mengajarkan anak dekat dengan air secara bertahap. “Misal, anak tegang, ya udah nggak apa jangan dipaksa kita bisa mulai mengenalkan air secara perlahan seperti, ‘Yuk lihat dulu nih teman-teman berenang’, ketika dia lihat asyik baru deh kita ajak ‘kamu mau duduk sini nggak? agak dekat kolam’,” ungkap Adisti.

Dari situ anak akan pelan-pelan mengikuti arahan dari mulai yang hanya berdiri di pinggir kolam, dan Bunda nggak perlu suruh si kecil nyemplung saat itu juga. Levelnya akan naik anak akan duduk-duduk di pinggir kolam, jadi secara nggak langsung kita buat nyaman dulu anak dengan air.

“Kalau saat itu dia cuma duduk di pinggir kolam, kakinya cuma kena semata kaki itu udah bagus, at least dia udah ada contact sama air walaupun sedikit. Setelah dia nyemplungin kakinya, kita ajak gerakkan kakinya. Tapi kalau belum siap, ya jangan dipaksa,” papar wanita lulusan Magister Psikologi Kekhususan Klinis Anak Universitas Indonesia ini.

Selanjutnya, jika anak sudah mulai berani kita bisa tingkatin level pendekatannya misal si anak udah mulai geser duduknya makin ke pinggir kolam, atau ajak anak mencelupkan kaki hingga betis ke kolam apakah si anak bersedia atau nggak. Kalau anak nggak keberatan dan mulai terlihat santai baru kita pelan-pelan ajak anak untuk masuk kolam renang lebih dalam.

“Tapi kalau misalnya untuk anak-anak yang punya kasus trauma atau dia punya ketakutan sendiri atau bahkan fobia, kita nggak bisa maksa tiba-tiba kita cemplungin dia ke kolam itu malah dia makin yakin bahwa ya air memang nggak nyaman, air memang bahaya atau anak jadi makin nggak suka air. Jadi memang pendekatannya harus bertahap sih,” tutup Adisti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas