Deretan Kejahatan Kelompok Penyandera Warga di Papua

Jakarta (Lentera Rakyat)  – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan keberhasilan pembebasan sandera oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Desa Banti dan Kimbeli Distrik, Tembagapura, merupakan operasi gabungan TNI-Polri. Aparat gabungan TNI-Polri yang diterjunkan ke lokasi sesuai fungsi dan tugas masing-masing.

“Ini adalah berkat rahmat Allah SWT, berkat kita semua, sehingga berjalan dengan luar biasa menyelamatkan sandera,” kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam wawancara dengan tvOne, 19 November 2017.

Gatot mengatakan, operasi pembebasan sandera ini sudah direncanakan cukup lama, sejak disandera mulai tanggal 1 November 2017 lalu, Kapolda telah melakukan upaya negosiasi kepada kelompok bersenjata untuk membebaskan para sandera. Upaya negosiasi juga melibatkan tokoh agama, kepala suku, Komnas HAM hingga surat edaran atau pamflet. “Mereka (tetap) bergeming,” ujarnya.

Selama menyandera warga, kata Gatot, para penyandera itu melakukan kekerasan seksual kepada 12 wanita, merampok uang warga senilai Rp107,5 juta. Kemudian emas 254,4 gram dan 200 handphone. Kesehatan warga semakin memburuk, kelompok bersenjata itu juga melarang warga melaksanakan ibadah keagamaan.

“Maka urgensi ini lah harus dilakukan, karena tidak boleh ada sejengkal tanah pun boleh dikuasai siapa pun juga di NKRI,” tegas Panglima. dikutif dari viva.co.id

Pasca pembebasan dan evakuasi warga korban sandera, Panglima memastikan jajaran TNI-Polri masih tetap berada di lokasi untuk pengamanan dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan lanjutan. Disamping itu, aparat juga melakukan pengejaran kelompok bersenjata di Papua.

“Upaya pengejaran tetap dilakukan sampai saat ini walaupun dengan tim kecil, tim lainnya fokus mengamankan tempat ini,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 344 warga yang sempat diisolasi oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Desa Banti dan Kimbeli Distrik Tembagapura berhasil dievakuasi oleh personel TNI-Polri, Jumat, 17 November 2017.

Operasi senyap ini yang merupakan gabungan TNI dan Polri itu melibatkan 300 personel. Di pihak TNI dikerahkan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Batalion Infanteri Raider 751, dan Peleton Intai Tempur Kostrad.

Semua unit, termasuk pasukan polisi, memiliki fungsi dan peran masing-masing. Misalnya, polisi menyiagakan dan mengamankan warga yang disandera. Sementara TNI melumpuhkan para penyandera. Operasi berhasil tanpa ada korban di pihak warga yang disandera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas