Siswa AS akan Gelar Aksi Massal Serukan Kontrol Senjata

Jakarta (Lentera Rakyat) — Dipicu penembakan sekolah di Florida,  para siswa di Amerika Serikat berencana menggalang aksi turun ke jalan, menantang para politisi untuk membuat undang-undang kontrol senjata.

Para siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Marjory Stoneman Douglas, Parkland, Florida, Amerika Serikat menggalang dukungan di media sosial untuk menggelar aksi tersebut termasuk di Washington. Pada Rabu (14/2) pekan lalu, tepat di Hari Valentine, seorang bekas siswa SMA tersebut menewaskan 17 orang dengan senapan tempur AR-15.

“Saya merasa sudah waktunya untuk bersikap,”” kata Lane Murdock, 15 tahun, asal Connecticut seperti dilansir kantor berita Reuters.

“Kami adalah orang yang berada di sekolah-sekolah, kami yang menghadapi penembak yang masuk ke kelas dan kawasan kami.”

Murdock tinggal dekat Sekolah Dasar Sandy Hook, dimana 20 murid dan enam orang dewasa ditembak mati lima tahun lalu. Dia mengumpulkan lebih dari 50 ribu tanda tangan lewat petisi online, mendesak para siswa untuk walk out dan turun ke jalan pada 20 April.

Dia mendesak rekan-rekannya untuk menggelar aksi protes bertepatan dengan peringatan 19 tahun penembakan massal di SMA Columbine, Colorado.

Para siswa SMA di Florida berencana menggelar aksi “March for Our Lives” atau “Pawai Demi Hidup Kami” di Washington pada 24 Maret. Aksi itu digelar untuk meminta perhatian atas keselamtan sekolah dan mendesak para politisi untuk memberlakukan kontrol senjata.

Para siswa dari sekolah-sekolah di Florida juga mengecam para pemimpin politik, termasuk Presiden Donald Trump karena tidak bertindak atas isu tersebut.

Banyak yang mengkritik tidak sensitifnya Trump setelah kicauannya yang menyebut bahwa jika FBI tidak sibuk membuktikan keterlibatan Rusia dalam pemilihannya sebagai presiden, penembakan sekolah di Florida tidak akan terjadi.

“Anda tidak dapat menyalahkan birokrasi dalam hal ini saat Anda, Tuan Presiden, yang bertanggung jawab secara kseluruhan,” kata David Hogg, siswa senior di SMA Douglas dalam wawancara telepon seperti dilansir Reuters, Senin (19/2).

Badan intelijen federal FBI mengakui gagal menyelidiki peringatan bahwa Cruz memiliki senjata dan keinginan untuk membunuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *