LRT Palembang Jadi Model Pengembangan LRT se-Indonesia

Palembang (Populinews) – Didampingi Dirjen Perkeretaapian dan Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Sekda Sumsel Nasrun Umar membuka secara resmi Focus Group Discussion (FGD) bertema ” Kesinambungan penyelenggaraan kereta api ringan/light rail transit (LRT) di Provinsi Sumsel”, di Auditorium Bina Praja Provinsi Sumsel, Kamis (8/3).

Dalam FGD ini terungkap, bahwa penyelenggaraan LRT di Sumsel bakal menjadi model bagi pengembangan LRT-LRT lain di berbagai kota di Indonesia. Hal itu dikatakan langsung oleh Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Zulmafendi.

Lebih jauh Zulmafendi menjelaskan kehadiran LRT di Palembang ini perlu terus dikoordinasikan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat sehingga terjadi kesinambungan penyelenggaraan LRT pasca Asian Games.

“Diperlukan peran aktif dan sinergi antara pusat dan daerah dalam rangka penyelenggraan LRT Sumsel. Karena ini akan jadi model pengembangan LRT di berbagai kota di Indonesia. Kita bangga dan bahagia melihat hasilnya. Ini  adalah jerih payah semua pihak. Semoga LRT ini akan jadi kenyataan  dan mampu memberikan pelayanan jasa di Palembang,” jelasnya.

FGD ini lanjut dia diharapkan dapat menjadi cara meningkatkan kompetensi sekaligus menghasilkan   pemikiran-pemikiran yang berharga dan bermanfat dari para pakar, demi penyelenggaraan LRT di Sumsel yang sempurna. Seperti diketahui pemerintah setidaknya telah mengucurkan dana hingga Rp12,8 triliun untuk pembangunan LRT pertama di Indonesia tersebut

“Selain untuk Asian Games,  transportasi ini punya peranan penting sebagai jembatan kegiatan ekonomi nasional menuju kemakmuran,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Sekda  Provinsi Sumsel Nasrun Umar mengatakan LRT ini lahir atas kegigihan masyarakat Sumsel, pemerintah daerah dan Kementerian Perhubungan khususnya Dirjen Perkeretaapian. Untuk itu penyelenggaraannya usai Asian Games perlu dibahas bersama.

” Melalui FGD ini mari kita bedah bersama apa yang jadi strategi ke depan. Sehingga LRT ini bukan hanya supporting Asian Games tapi sesudahnya juga.  Makanya banyak pakar-pakar yang mumpuni kita kumpulkan agar bisa memberi masukan yang konstruktif,” jelasnya.

Sedikit flashback, Nasrun Umar menceritakan kalau LRT ini dibangun atas dasar kemacetan yang terus terjadi Sumsel khususnya Palembang. Dari hasil survei mereka di jalan- jalan arteri, kemacetan terjadi saat jam sibuk. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan belum bisa mengurai kemacetan.

“Kita stuck dan harus mencari moda angkutan lain. Puncaknua pas  Sea Games 2011, macet total banyak tamu yang tidak bisa menghadiri opening. Waktu itu muncul wacana membangun monorel dalam forum gubernur se Sumatera,” jelas Nasrun.

Berbagai seminar dan simposium digelar untuk mewujudkan sampai 2015, namun wacana tersebut tak terwujud. Pernah juga sambung dia, pemprov mencoba menggunakan skema investasi untuk mewujudkan LRT ini bahkan smapaimengundnag dua investor untuk paparan.

“Skema investasi memakan waktu lama, sementara kita hanya punya waktu 2,8 tahun. Akhirnya kita coba tarik dana APBN. Alhamdulillah sekarang LRT ini akan jadi kenyataan,” jelasnya.

Karena LRT ini moda transportasi baru, Nasrun tak menampik akan terjadi pro dan kontra din kalangan masyarakat. Untuk iu pula sebagai penyedia jasa sebisa mungkin pihaknya mengupayakan cara untuk menarik minat masyarakat. Hal ini penting agar PTKAI sebagai operator tidak merugi dan bisa menutupi biaya operasional.

” Memang tidak mudah mengubahnya menjadi kuktur. Dulu waktu mengubah dari oplet ke buskota saja butuh waktu paling tidak 1 tahun. Nah ini moda nya beda lagi,” ujarnya.

Atas dasar itu pula Nasrun berharap Pemerintah daerah tetap konsisten dengan kelangsungan LRT ini. Melalui FGD ditargetkan akan lahir pemikiran inovasi dan kreatifitas yang bisa menjadikan kereta api ringan ini sebagai moda transportasi yang mympuni dan mampu mengatasi kemacetan di jalan arteri. (dhie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *