Dampak Perang Dagang China-AS Bervariasi bagi Indonesia

Jakarta (Lentera Rakyat) — Pemerintah menilai perang dagang yang dibunyikan Amerika Serikat dan China membawa dampak yang beragam, baik negatif maupun positif, bagi Indonesia.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan dari sisi konsumen, ada kemungkinan impor barang konsumsi China yang dilarang AS akan menyerbu Indonesia, sehingga harga barang menjadi lebih cukup murah.

Namun, dilihat dari sisi produsen, arus barang impor tentu membuat produsen dalam negeri ketar-ketir karena khawatir daya saingnya berkurang.

“Sebetulnya tidak usah jadi pusing, biarkan saja, karena itu kan lanjutan kebijakan yang lalu. Jadi ya kalau dampak tidak selalu negatif, ada saja positifnya,” terang Darmin, Jumat (23/3).

Jika arus impor barang dari dua negara yang berseteru dagang itu masuk ke Indonesia, tentu saja bisa berdampak pada neraca perdagangan Indonesia dengan China. Apalagi, selama ini Indonesia selalu mencatat defisit dengan negara asal panda tersebut.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan defisit neraca perdagangan non-migas Indonesia terhadap China tercatat US$13,89 miliar sepanjang tahun 2017 lantaran ekspor Indonesia ke China senilai US$21,32 miliar lebih kecil dibanding impornya yakni US$35,51 miliar.

“Tapi tergantung juga defisitnya makin lebar atau tida. Pada dasarnya jangan terlalu terburu-buru melihatnya ke Indonesia. Tentu yang mengalami dampak kan mereka berdua, karena mereka yang ambil langkah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan sanksi kepada China berupa pengenaan tarif pada barang impor China senilai US$60 miliar. Trump juga tengah menyiapkan langkah untuk membatasi investasi Amerika Serikat di China.

Tindakan Trump ini dianggap akan memicu perang perdagangan global. Berdasarkan memorandum presiden yang ditandatangani Trump, tarif baru bagi impor China tersebut baru akan berlaku setelah periode konsultasi usai.

Ini diperkirakan akan memberikan kesempatan bagi industri untuk melobi legislatif guna melonggarkan daftar pengenaan tarif baru tersebut yang saat ini berjumlah 1.300 produk.

Namun, China tak tinggal diam. Nantinya akan ada 120 barang impor dari AS yang dikenakan tarif impor mulai dari kacang dan anggur dengan tarifnya sekitar 15 persen hingga 25 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *