Relawan Gatot Nurmantyo Ajukan Capres ke Partai Yusril

Lentera Rakyat – Sejumlah orang yang mengatasnamakan diri Relawan Selendang Putih Nusantara atau RSPN datang ke Kantor Partai Bulan Bintang di Kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Senin 9 April 2018.

Mereka datang ke PBB, untuk melakukan silaturrahmi dan memperkenalkan sosok Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo untuk diusung sebagai Capres pada Pilpres 2019.

“Relawan Selendang Putih ini, kita memperkenalkan calon yang kita dukung, yakni Jenderal TNI (Purn) H. Gatot Nurmantyo sebagai calon presiden 2019-2024,” kata Sekjen RSPN Sumiarsi di DPP PBB. sperti dikutif dari viva.co.id.

RSPN, menurut Sumiarsi, juga telah melakukan komunikasi dengan partai-partai lainnya, agar nama Gatot dapat maju dalam Pilpres 2019. Namun, kepada Gatot sendiri RSPN belum melakukan pembicaraan secara resmi.

“Secara formal belum, karena setelah pensiun beliau (Gatot Nurmantyo) keluar negeri. Tetapi, secara Informal ini bukan zaman kuno lagi. Jadi, saya rasa mungkin beliau sudah tahu. Bisa tahu lewat medsos juga,” kata Sumiarsi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra merespons positif. Menurutnya, mendukung seseorang untuk dijadikan pemimpin merupakan hak seseorang yang dijamin oleh undang-undang dan hal tersebut merupakan bagian dari demokrasi.

“Kita dengar saja. Enggak usah diganggu-ganggu. Beri kebebasan, supaya demokrasi kita berkembang,” kata Yusril di Markas PBB, Senin siang.

Namun, Yusril mengatakan, saat ini menjadikan seseorang sebagai capres maupun cawapres bukan hal yang mudah. Mengingat, partai atau gabungan partai memiliki ketentuan ambang batas suara untuk dapat mengusung capres atau cawapres

“Ya, sekarang ini maju jadi capres atau cawapres itu sudah dibatasi undang-undang. Jadi, hanya kepada mereka yang mempunyai suara gabungan sampai 20 persen atau 25 persen suara sah secara nasional berdasarkan hasil Pemilu 2014 lalu,” ujarnya.

Meski begitu, Yusril tidak pesimis dengan apa yang diperjuangkan oleh relawan Selendang Putih. Karena, saat ini masih banyak waktu dan dinamika politik dapat berubah sewaktu-waktu. “Kemungkinan selalu terbuka. Politik ini longgar dan sangat mungkin untuk formasi baru,” kata Yusril.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas