Menyelamatkan Malaysia dari Utang

Malaysia (Lentera Rakyat) – Tumbangnya rezim Perdana Menteri Najib Tun Razak menguak sederet fakta kebobrokan pemerintahan Malaysia yang dia pimpin selama 9 tahun. Selain skandal rasuah yang tengah menghimpitnya, di bawah rezim Perdana Menteri (PM) Najib pula, Malaysia terbelenggu dengan utang negara yang kian membengkak.

Pasca beralihnya kepemimpinan nasional Malaysia dari Najib Razak kepada PM Mahathir Mohamad, fakta terkait utang Malaysia yang kian membengkak mulai disorot. Bahkan, Mahathir mengungkap, utang negaranya jauh lebih tinggi dari angka yang telah dikeluarkan mantan PM Najib. Menurut Reuters, Mahathir yakin bahwa komposisi utang negaranya kini sudah 65 persen dari total produk domestik bruto (GDP) dan itu sudah jadi peringatan keras.

Itulah sebabnya, di Malaysia, banyak warga yakin bahwa mempercayakan kembali Mahathir sebagai pemimpin memang benar-benar keputusan yang tepat. Di usia yang sudah 92 tahun, Mahathir sudah banyak pengalaman membawa Malaysia keluar dari krisis ekonomi.

Warga Malaysia tak lupa, bahwa 20 tahun lalu, PM Mahathir pernah berjasa menyelamatkan negeri mereka dari jerat krisis moneter regional lewat serangkaian kebijakan dan disiplin fiskal. Kini, menghadapi situasi yang serupa, pemimpin berjuluk “Tun M” itu juga diharapkan bisa melakukan penyelamatan yang sama pula. Sejumlah langkah pun mulai dia lakukan, salah satunya dengan mengikut sertakan peran publik.

Mahathir dan para pejabatnya sadar bahwa risiko kembalinya Malaysia ke jurang krisis moneter tak bisa dianggap enteng dan butuh langkah cepat untuk memperbaiki kekeliruan dan kesewenang-wenangan rezim Najib dalam mengelola ekonomi dan keuangan nasional.

Najib sebelumnya mengklaim total utang nasional sebesar 687,43 miliar Ringgit atau Rp2,453 triliun per September 2017. Namun, menurut Mahathir, utang negaranya jauh lebih tinggi dari angka yang telah dikeluarkan Najib, yaitu mencapai US$251 miliar atau setara Rp3.514 triliun.

Apalagi, seperti dilansir Nikkei, Jumat 25 Mei 2018 lalu, disebutkan bahwa angka resmi pada akhir 2017, tercatat utang Malaysia hanya mencapai 687,43 miliar ringgit. Angka itu dinilai sebuah spekulasi yang ditutupi Najib Razak.

Upaya penutupan data tersebut, ditengarai untuk menyembunyikan korupsi yang dilakukan Najib. Hal ini, tentunya mengguncang kepercayaan investor dan membuat gejolak fiskal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas