Press "Enter" to skip to content

Danrem 032/Wbr Kembangkan Olahraga Orienteering di Sumatera Barat


Sumbar | Lentera Rakyat.com — Komandan Korem 032/Wbr Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, S.I.P sosialisasikan dan kembangkan Olahraga orienteering di  Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), untuk menjadi cabang olahraga yang diminati oleh semua kalangan masyarakat. 

Dikatakan oleh Kunto, olahraga Ini adalah olahraga yang cocok untuk semua kalangan dari semua umur baik laki laki maupun perempuan.  Apalagi, olahraga orienteering ini di Indonesia sudah dikenal sejak 28 tahun yang lalu. Bahkan sudah sangat terkenal di dunia, terutama bagi pecinta alam dan pramuka. Baik dari tingkat umum, pelajar, mahasiswa hingga kalangan militer.

“Olahraga ini tergabung di dalam  Federasi Orienteering Nasional Indonesia (FONI), yang telah menjadi keanggotaan Internasional Orienteering Federation (IOF),” kata Danrem 032/Wirabraja Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, S.I.P usai sosialisasi di Makorem Padang, Jln Sudirman No. 29 Padang, Sabtu (25/5/2019).

Lebih lanjut Ketua Asosiasi Orienteering Militer Indonesia ini mengatakan, bahwa olahraga orienteering ini perlu digalakkan di tanah air, termasuk di Sumbar.  Salah satunya dengan upaya sosialisasi harus terus menerus  dilakukan. Hal ini sekaligus untuk menjaring bibit-bibit atlet unggulan, untuk berkompetisi dikancah nasional dan internasional.

“Kita sedang berusaha mengembangkan olahraga ini, termasuk di Sumbar, untuk mencari bibit unggulan,” sebutnya di hadapan sekitar 300 peserta yang hadir.

Ia menjelaskan, orienteering merupakan salah satu cabang olahraga yang sejatinya dilakukan di alam bebas. Oleh sebab itu pula, selain kesehatan fisik, juga sangat diperlukan kemampuan dan keterampilan membaca navigasi peta dan kompas. 

Dalam pemaparannya, Ketua FONI ini  menyebutkan peserta olahraga orienteering ini hanya dibekali sebuah peta topografi secara khusus. Dan dengan bekal yang minim itu pula, peserta sangat dituntut mampu bergerak cepat, gesit, dan tepat untuk menemukan control point yang telah ditentukan panitia.

“Selain mengandalkan fisik untuk berbagai outbond, peserta orienteering juga diajak berpikir. Jadi memang bukan sekedar berlari, tapi juga berpikir,” papar Danrem.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa pada awalnya, olahraga orienteering digunakan anggota militer untuk melatih kemampuan navigasi darat, dengan berbagai variasi. Diantaranya, foot orienteering, mountain bike orienteering, ski orienteering, dan trail orienteering.

“Kalau tipenya ada sprint, middle, classic (long), serta relay,” ungkapnya di hadapan antusiasnya peserta.

Agar kompetisi ini bisa berjalan secara fair, peta navigasi diberikan beberapa detik sebelum dimulai. Kemudian semua peserta dituntut untuk mengikuti rute tercepat dari satu titik control point, menuju titik kontrol lainnya, hingga mencapai finish.

“Kompetisi orienteering ini benar-benar menguji keahlian navigasi, kosentrasi, dan kemampuan lari peserta. Jadi kebugaran dan kecepatan sangat diperlukan,” terangnya.

Selanjutnya, setelah selesai sosialisasi pada hari yang sama  peserta juga mengikuti simulasi langsung di lingkungan Makorem 032/Wbr. Berdasarkan pantauan pantauan di lapangan peserta sangat antusias mengikuti simulasi, baik dari mahasiswa, siswa, Mahasiswa Pecinta alam  hingga prajurit TNI AD.

Adapun 10 terbaik dalam simulasi olahraga orienteering, yakni Surti Marsyah, Aprindo Desron (MPALH UNP), Serda  Imran, Serda  Gajul, Serda Dedi dari Yonif 133/YS, Sadam dari Yonif 131/BRS,  Fahrul Fargoni, Dahril Jami, (Mapala Unand), Sertu Pasaribu (Yonif 131/BRS), serta Puput Derita Sari, dan Siska Oktaviani (MPALH UNP). 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *