Press "Enter" to skip to content

Bangga Menjadi Indonesia

Sumbar | Lentera Rakyat.com — Di tahun 1990-an dulu begitu laris manis film ACI (Aku Cinta Indonesia). Film ini bukan bicara soal produk made in Indonesia atau keharusan untuk membeli barang-barang dari Indonesia. Film tersebut justru berkisah tentang suasana kehidupan masyarakat Indonesia kala itu, keluarga yang bahagia, dinamika dan terkadang ada juga konflik di masyarakat. Inti dari film itu sebenarnya adalah ingin mengatakan bahwa Indonesia itu indah, bervariasi, dan penuh dinamika. Itulah Indonesia karena itu, cintailah. Begitu kira-kira.

Sekarang, puluhan tahun kemudian Indonesia terus bergerak. Masyarakat berubah, pemerintahan berganti, sistem sosial bergeser, tua berganti muda, desa berubah menjadi kota, dan kotapun semakin sesak. Tetapi satu yang masih terus dibanggakan adalah, Indonesia masih ada. Negara ini masih berdiri kokoh, yang oleh banyak pihak sering pula diklaim bahwa Indonesia katanya sudah rapuh bahkan dalam perspektif lain disebut Indonesia sudah tak ada.

Bagi saya Indonesia itu tetap ada, sampai kapanpun. Mungkin semangat ini terpompa oleh jiwa dan semangat sebagai militer, dimana doktrin nasionalisme itu begitu kuat ditanamkan. Tetapi dalam perspektif yang lebih luas dan kritispun, saya tetap mengatakan bahwa Indonesia ini tetap ada, tak akan Indonesia hilang dibumi, begitu kira-kira meminjam pengibaratan peribahasa Melayu.

Begitu juga, saat ini, salah satu alat negara Indonesia, yaitu Kepolisian Republik Indonesia merayakan hari lahirnya. HUT Bayangkara yang ke 73.Baik Polri ataupun TNI sama-sama alat negara yang memiliki tugas dan fungsi berbeda. Sekilas tampak sama, sama-sama pegang senjata, sama-sama bergerak di sektor keamanan, sama-sama menekankan disiplin, rantai komando dan kecintaan pada korps. Tetapi keduanya berbeda, yaitu hankam melekat pada TNI, sementara Polri adalah keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). TNI punya senjata yang lebih “berat” ketimbang Polri, tapi Polri punya kewenangan terhadap keamanan masyarakat ke dalam.

Kendati berbeda, kedua lembaga ini adalah bermitra, yang dulunya sempat berganti-ganti induk secara struktur. Satu hal yang menjadi kesamaan adalah tanggungjawabnya yaitu mempertahankan Indonesia. Bagi kedua lembaga ini, sudah tuntas dan sudah jelas, bahwa rumah Indonesia adalah segala-galanya. Karena itu, tak perlu lagi kiranya mempertentangkan posisi dan kewenangan keduanya, semua sudah jelas, dan yang perlu di gadang-gadangkan adalah komitmen untuk memupuk keIndonesiaan ini.

Indonesia itu adalah sebuah rumah lengkap dengan tanah tempat berdirinya. Sebagai sebuah rumah, ia memiliki pula kamar-kamar kecil yang mungkin saja posisinya terpisah-pisah, tetapi tetap dalam satu pagar besar Negara Kesatuan. Itulah ia pulau-pulau yang tersebar dari Sabang-Merauke. Sebagai sebuah rumah besar, maka mungkin saja akan ada variasi dan dinamika didalamnya. Sangat mungkin, karena toh dalam sebuah rumah tangga yang sebenarnyapun, perbedaan dan konflik bisa saja terjadi.

Indonesia bukanlah rumah yang biasa-biasa saja. Ia adalah rumah yang molek, mempesona, bangunannya indah, halaman luas, dan selalu membuat orang yang lewat ingin memandangnya. Rayuan Pulau Kelapa adalah lagu yang sering diibaratkan untuknya. Penghuninyapun begitu ramah, murah senyum dan selalu tak bisa menolak jika ada orang berkunjung. Isi rumah juga bukan hal yang sederhana. Disitu ada emas, minyak, gas, batubara, kelapa, intan, dan berbagai kebutuhan seluruh umat di dunia ini. Tak heran Indonesia jadi incaran dan penglihatan bagi semua orang.  Di satu sisi ini sebuah kebanggaan, tapi di sisi lain ini juga jadi ancaman. Maling dan perompak sangat mungkin masuk jika rumah tak dijaga dengan baik. Begitulah.

Mengambil pengibaratan pada sebuah rumah juga, Indonesia bisa saja dirongrong oleh berbagai hal. Rongrongan itu bisa dari dalam rumah sendiri, dari luar, atau sang penghuni yang bekerjasama dengan pihak luar untuk menguasai rumah tersebut. Semua bisa terjadi, dorongan nafsu tamak, haus kekuasaan dan kekayaan, persaingan sesama penghuni, sangat bisa mengancam keutuhan pondasi rumah.

Terhadap rongrongan ini, kiranya sejarah sudah membuktikan semua itu. Sejak sebelum merdeka, masa setelah kemerdekaan, periode pembangunan, hingga ke era reformasi dan teknologi sekarang ini, berbagai dinamika selalu muncul. Alasannya hanya satu, Indonesia ini begitu mempesona. Tak heran jika kemudian beberapa penghuni rumah keluar dan membangun rumah sendiri. Timor Timur adalah contoh konkrit.

Ancaman terhadap keutuhan rumah Indonesia, bisa dalam bentuk fisik ataupun non fisik. Secara fisik tampak dari bagaimana ekspansi negara asing di era sebelum merdeka maupun pasca kemerdekaan. Ancaman ini nyata dan alhamdulillah semua bisa diatasi berkat kerjasama dan kekompakan penghuni. Sementara secara non fisik, tampak dari berbagai gempuran ideologi, keyakinan, budaya konsumerisme, hedonisme, yang kemudian menciptakan Indonesia seolah-olah berada di dunia maya. Ada tapi tak kelihatan.

Separatisme dalam bentuk penyebarluasan ideologi-ideologi baru selain Pancasila, sampai sekarang tetap menghantui. Terkadang gerakannya tak muncul secara fisik, tapi ideologinya terus ditanamkan. Tak mungkin masuk ke generasi tua, generasi muda jadi incaran. Kewaspadaan dan selalu melakukan counter terhadap ideologi harus tanpa henti. TNI dan Polri harus dan memang semestinya jadi ujung tombak menjaga ini. Semua demi Indonesia, bukan segelintir orang atau golongan.

Dari penglihatan sekilas saya, setidaknya ada tiga kelompok generasi yang ada di Indonesia ini. Pertama, generasi yang mengalami hidup di era orde lama dan orde baru sampai ke era sekarang. Kedua, generasi yang mengalami hidup di era orde baru dan sekarang. Ketiga, generasi milineal yang hidup di era reformasi, bahkan banyak yang lahir setelah 1990 akhir.

Pada generasi pertama dan kedua, saya sedikit menaruh harapan bahwa mereka masih memiliki kecintaan dan keterikatan kuat dengan Indonesia. Setidaknya, level kebanggaan sebagai orang Indonesia masih sangat tebal. Mereka masih bisa dengan bangganya menceritakan nostalgia semasa kecil, menceritakan tentang kebun dan sungai, keguyuban, gotong royong, berkisah tentang para pendiri bangsa. Mereka adalah orang-orang yang tahu asam garamnya Indonesia. Kalaupun kemudian ada di antara mereka yang berseberangan dengan pandangan pemerintah, mengkritik, bahkan ditangkap, bagi saya itu adalah riak-riak, bukti kecintaan pada Indonesia, bukan ingin menghancurkan Indonesia.

Sementara pada kelompok ketiga, kiranya kerisauan perlu ditekankan disini. Kelompok inilah yang tidak mengalami pahit manisnya sejarah kehidupan berbangsa. Generasi X sebutannya, generasi milineal istilah lainnya. Merekalah yang hidup dalam gegap gempitanya teknologi informasi, hidup dalam dunia gadget, bergerak di dunia maya, cenderung individualistis. Terhadap kelompok inilah, level kecintaan terhadap Indonesia perlu diciptakan program yang sistematis dan massif.TNI-Polri sudah seharusnya memberikan perhatian lebih pada kelompok ini. Khusus Polri, ada ruang lebih luas untuk masuk ke wilayah ini, karena aktifitas Polri berhubungan langsung ke sisi tersebut.

Tiga kelompok di atas, harus diakui juga ada pada kedua institusi keamanan negara, baik Polri maupun TNI. Kunci pengelolaannya adalah pada pendidikan dan pembinaan secara berkelanjutan. Pendidikan internal kedua lembaga, saya yakin sudah final dan sudah sangat OK. Aspek pembinaan berkelanjutanlah yang menentukannya, apakah kemudian akan terombang ambing pada geliat politik atau tetap konsisten, ini yang akan menentukan. Kosisten pada komitmen awal dan konsisten dengan masing-masing tupoksi harus jadi patokan.Karena itu, bangga menjadi Indonesia, harus dimulai dengan fokus pada tupoksi masing-masing. Jika ada kendala dalam pelaksanaan, maka sinergi antar lembaga akan jadi solusi.

Mungkin ada yang terkagum-kagum dengan negeri tetangga semacam Singapura, Malaysia, Brunei dan lainnya. Mungkin banyak terpesona dengan kehidupan  di Eropa, Amerika dan sebagainya. Tetapi yakinlah, Indonesia (khususnya bagi saya) jauh lebih baik. Dari sisi sumber daya alam, Indonesia jauh lebih unggul dan tak ada duanya, dari sisi keragaman penduduk, Indonesia nomor satu. Pelangi itu ada di Indonesia, karunia Tuhan yang tak terbantahkan.

Ada yang beranggapan bahwa negara ini memang kaya, tapi salah urus. Bisa jadi argumen ini benar. Tetapi itu bukan jadi alasan untuk mengatakan bahwa Indonesia tak perlu ada. Bukankah pepatah sudah berkata, jika kusut benang di ujung, kembalilah ke pangkalnya. Pangkal dari kehidupan bernegara adalah kesatuan dengan rakyat. TNI-Polri adalah milik rakyat. Sinergi yang ada akan mampu membereskan kekusutan yang ada. 73 tahun Polri dan 74 tahun TNI di tahun ini, usia yang cukup untuk membangun dan memperkokoh ke Indonesiaan itu. Syaratnya adalah, tanamkan kecintaan pada Indonesia sebagai darah daging. Apapun tindakan kita adalah untuk Indonesia, dan jangan bakar rumah sendiri. Selamat HUT Bayangkara. Tetap sinergi, tetap Indonesia.

(Catatan HUT Bayangkara RI)

Oleh : Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo (Danrem 032 Wirabraja)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *