LENTERA RAKYAT – Niat hati ingin merubah status kepesertaan layanan kesehatan mandiri menjadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), salah seorang warga Desa Bodas, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, justru baru menyadari jika dirinya menjadi korban penipuan salah seorang Oknum (sebut saja Kucing), Warga Desa yang sama.
Itulah yang dialami langsung oleh Kumbang. Pria paruh baya bersama 3 anggota keluarganya baru menyadari sudah menjadi korban dugaan penipuan yang dilakukan oleh oknum warga desa yang sama namun berbeda Dusun.
Si oknum yang menawarkan pada Kumbang jika bisa merubah status kepesertaan pelayanan mandiri milik diri dan 3 orang anggota keluarganya, menjadi kepesertaan pelayanan kesehatan PBI.
“Awalnya saya dan beberapa orang lain ditawari oknum, bisa merubah mandiri ke PBI. Ya saya tergiur dan mengiyakan.”, ungkap Kumbang, (3/11/2025).
Lebih lanjut dijelaskan oleh Kumbang, selanjutnya si oknum meminta foto copy kartu tanda penduduk dan kartu keluarga miliknya.
” Iya, si Oknum minta foto copy KK KTP saya.”, katanya.
Kucing pun kembali meminta uang senilai sekitar Rp. 1.000.000,00. Kucing yang berdalih uang tersebut untuk membayar tagihan tunggakan iuran Mandiri, agar bisa dirubah menjadi pelayanan PBI.
“Oknum meminta uang 1 Juta untuk menutup tagihan iuran mandiri agar bisa dirubah ke PBI. Ya saya pun menyanggupi dan memberikan uang tersebut. Kata Oknum, kalau tidak dibayar, ya tidak bisa diproses.”, imbuhnya.
Tanpa bermaksud sok pintar, Dentang Harya Sutawijaya, yang menjadi relawan kesehatan independent sekaligus Pemimpin Redaksi Lentera Rakyat, mendampingi Kumbang untuk melakukan pengecheckan di Kantor yang menangani pelayanan mandiri dan PBi.
Alangkah terkejutnya Kumbang dan Dentang, manakala hasil dari pengecheckan tersebut justru terbukti jika Kumbang masih memiliki hutang tunggakan iuran mandiri yang belum terbayarkan.
” Betapa kagetnya saya manakala melihat hasil pengecheckan datanya Kumbang di Kantor itu. Ternyata Kumbang masih memiliki Hutang Tunggakan Mandiri yang belum dibayarkan sekitar Rp. 1.540.000,00. Padahal penuturan Kumbang, dia sudah menyerahkan uang Rp. 1.000.000,00 kepada si Oknum itu.”, terangnya.
Merasa ditipu oleh si Oknum, Kumbang pun berencana menemui si Oknum untuk meminta pertanggungjawabannya.
“Terus terang saja, tidak menyangka jika ternyata saya masih memiliki Utang Tunggakan Iuran Mandiri. Padahal si Oknum minta uang ke saya, dan sudah saya kasih untuk memproses peralihan dari Mandiri ke PBI. Kata si Oknum, Uang tersebut untuk membayar Utang Tunggakan Iuran Mandiri. Giliran hari ini saya dan Pak Dentang mengecheck ke kantor itu, malah saya ternyata masih punya utang tunggakan mandiri.”, jelas Kumbang.
Dikatakan oleh Kepala Desa Bodas, Kiarno, Dirinya justru baru tau terkait peristiwa tersebut karena tidak ada warga yang melakukan pengaduan.
“Selama ini tidak ada warga yang mengadu langsung ke saya atau ke Kantor Balai Desa Bodas. Justru saya baru mengetahui dari Pak Dentang. Karena Pak Dentang kan yang selama ini membantu warga masyarakat Desa Bodas manakala kesulitan mengurus pemberkasan di Rumah Sakit. Termasuk mengurus dan memproseskan pembuatan atau perbaikan data PBI.”, pungkas Kiarno.
Hasil penelusuran Tim WWW.LENTERARAKYAT.COM di lapangan, ternyata ada 2 orang lagi yang diduga menjadi Korban tingkah polah dan rayuan Gombal dari Oknum. Tentu saja dengan uang atau bayaran yang bervariasi. Tak hanya itu, si oknum juga menggunakan “Jurus” yang sama pada saat merayu Kumbang.
Dengan bertambahnya dugaan perbuatan dan tingkah polah si Oknum yang Sok jadi Pahlawan, berarti sudah ada 6 orang warga yang menjadi korban dan diduga dimungkinkan bisa lebih dari 6 orang. Tentu saja dengan biaya yang bervariasi.
(Redaksi)



















